20, 21, 22 April 2018

Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Indonesia

YOGYAKARTA – Jika buku adalah teman paling loyal (Ernest Hemingway), musik adalah bahasa manusia  paling  universal  (Henry  Wadsworth).  Jika  buku  memberikan  makna,  maka  musik memberi  jiwa  pada  alam  semesta.  Buku  menuntun  kita  menemukan  eksistensi,  dan  musik menerbangkan kita menjelajah imajinasi. Buku membawa kita kepada kebijaksanaan hidup, dan musik membawa kita kepada keindahan dan kegembiraan hidup.

Mocosik adalah  festival  tahunan yang dirancang untuk mempertemukan dalam satu panggung dua kultur yang berbeda, yakni buku dan musik. Kedua kultur yang masuk dalam ranah literasi budaya  itu  diringkus  dalam  satu  ikatan  akronim: Mocosik.  Dalam  bahasa  Jawa,  “maca”  atau “moco” artinya baca, sementara “sik” berarti “musik”. Pada tahun ini, Bank BRI Mocosik Festival 2018  mengusung  tagline  besar  "merayakan  buku  dan  musik",  Mocosik  menampilkan dua budaya secara serentak dan kontinum. Buku yang sunyi disandingkan dengan musik yang bunyi lewat sebuah perayaan selama tiga hari yaitu tanggal 20, 21 dan 22 April 2018.

Di panggung Mocosik, baik buku maupun musik  adalah  sebuah percakapan kreatif. Panggung buku mewujud dalam obrolan dan bazar, sementara musik adalah dialog dalam bunyi dan lirik. Baik  panggung  buku  dan  musik,  sukma  utama  yang  ditumbuhkan  adalah  perjumpaan  serta penciptaan kreatif dalam kereta literasi budaya yang panjang.

“Mocosik  itu membaca buku dalam acara musik yang asik. Kami merangkul dua dunia dengan pelakunya masing-masing. Ratusan penerbit dan pegiat buku diundang dalam bazar buku dan percakapan  literasi  di  panggung  Buku.  Sementara  itu,  di  panggung  Musik,  kami  hadirkan musisi-musisi papan atas, baik grup maupun solo,” kata Founder Mocosik Festival, Anas Syahrul Alimi.

“Kami  akan  memberikan  panggung  yang  sama  besar  untuk  buku  &  musik,  Mocosik  akan mempertemukan  pembaca  yang  baru,  yakni  pecinta  musik  &  buku.  Kami  berharap  antara penggerak  budaya  pop  seperti  musik  bertemu  menjadi  satu  arus  kesadaran  bahwa  literasi penting untuk membangun peradaban di mana kita hidup sehari-hari,” lanjut Anas.

Sementara itu Project Director Mocosik Festival, Bakkar Wibowo menyampaikan bahwa semua lapak buku digratiskan kepada seratus penerbit yang terseleksi, bersama ribuan  judul buku di sana. “Silahkan  pilih mana  yang Anda  suka  dengan menukarkan  tiket  dengan  buku.  Jadi,  beli tiket nonton konser musik dapat buku.  Jika buku  ingin disumbangkan, kita  juga menyediakan tempat untuk menyumbangkan buku,” ungkap Bakkar.

Jelas  Bakkar  kembali,  di  panggung  Galeri  Seni  Rupa,  Bank  BRI  Mocosik  Festival  2018 menampilkan  pameran  arsip  dari  Buldanul  Khuri  dengan  tajuk  “25  Tahun  Buldanul  Khuri Berkarya”. Pria kelahiran Kotagede Yogyakarta  tersebut menurut Bakkar dikenal bukan hanya sebagai penggerak dunia penerbitan buku-buku humaniora di seantero Yogyakarta, namun juga sosok penting yang membawa karya seni  rupa di sampul buku.  “Di panggung galeri seni  rupa nanti  juga  akan  dihadirkan  pula  karya  seni  dari  perupa  Titarubi  &  Ong Hari Wahyu,”  lanjut Bakkar.

Bank  BRI  MocoSik  Festival  2018  di  selenggarakan  di  Jogja  Expo  Centre  (JEC),  Yogyakarta, MocoSik berlangsung selama tiga hari dengan 4 acara utama: (1) Pertunjukan Musik, (2) Bazar Buku,  (3) Talkshow Buku  dan  Literasi,  (4) Pameran Arsip dan  Seni Rupa Buku. Di panggung pertunjukan musik,  grup musik  serta musisi  yang  akan  tampil  adalah  Kahitna,  Rio  Febrian, Letto, Melancholic Bitch, Pure Saturday, Tulus, Tompi, Ten2Five, Frau, Neonomora, Slank, Glenn Fredly,  dan  Sirkus  Barock.  Di  panggung  buku  dan  literasi,  para  penampil  bukan  hanya  dari sastrawan  dan  penulis,  melainkan  juga  musisi,  sutradara  film,  dan  pegiat  seni  rupa.  Di antaranya yang dihadirkan adalah Sapardi Djoko Damono, Seno Gumira Ajidarma, Aan Mansyur, Alia Swastika, Yovie Widianto, Kamila Andini, Garin Nugroho, dan Adib Hidayat. 

Selain  itu,  ada  pula  nama-nama  yang  tak  asing  di  publik  sastra  dan  perbukuan  Yogyakarta, seperti Afrizal Malna, Edy AH  Iyubenu, Muhidin M. Dahlan, Mahfud Ikhwan,  Iqbal Aji Daryono, dan Irwan Bajang. Tak kalah serunya dengan penampilan yang siap disajikan Bank BRI MocoSik Festival  2018  lainnya,  ada  juga  Jubing-Reda,  Yovie Widianto,  Semendelic  dan  Sri Krisna  siap menggempar  panggung  talkshow  untuk  menampilkan  kebolehan  mereka  dalam bermusikalisasi.

Harga Tiket Bank BRI Mocosik #2 Tahun  2018: 75K  / hari  (Tiket  konser musik  juga  sebagai voucher belanja buku di 100 stand penerbit se-Indonesia) Tiket online: tiketapasaja.com, Info: Instagram/Twitter/Facebook @MocoSikFestival. Hotline: 08 222 666 4343/0274 521328.

NARASUMBER:

Anas Syahrul Alimi – Founder Mocosik Festival (CEO Rajawali Indonesia Communication)

Bakkar Wibowo – Project Director Mocosik Festival

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Bank BRI Mocosik Festival 2018 Tampilkan Pure Saturday

Yogyakarta – Pure Saturday, grup musik indie pop asal Kota Kembang menjadi salah satu pengisi acara dalam Bank BRI Mocosik Festival 2018 di hari pertama, Jumat (20/4) di Jogja Expo Center. Mocosik Festival sendiri merupakan festival tahunan yang dirancang untuk mempertemukan dua kultur yang berbeda, yaitu buku dan musik dalam satu panggung, yang mana pada tahun ini diselenggarakan selama tiga hari, yaitu pada 20, 21 dan 22 April 2018.

Dalam penampilannya di Bank BRI Mocosik Festival 2018, band yang kini digawangi oleh Satrio (vokal), Arief Hamdani (gitar) dan Ade Purnama (bass) berhasil menampilkan karya-karya terbaiknya di hadapan banyaknya pengunjung yang ikut menjadi bagian dalam acara yang diselenggarakan oleh Rajawali Indonesia Communication.  Usai menggelar penampilannya, Satrio mengatakan bahwa ia bersama teman-temannya di Pure Saturday sangat antusias bisa menjadi bagian dalam acara ini. 

Menurutnya, atmosfer yang mereka mereka rasakan di Mocosik Festival menjadi sebuah pengalaman pertama dan sangat menarik. “Buat kami terlibat dalam event ini seperti mendapatkan nuansa baru. Selain bersama musik, semua orang yang terlibat di sini (Bank BRI Mocosik Festival 2018) dipaksa untuk lebih dekat lagi dengan buku. Zaman sekarang udah jarang banget orang mau datang ke toko buku. Mocosik seperti membawa kita untuk mengulang kembali membudayakan mengoleksi buku. Karena menurut saya yang namanya karya fisik selalu lebih nikmat jika dibandingkan dengan digital,” ungkap Satrio terhadap acara yang disponsori oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tersebut.

Lanjut Ade, walau sejak terbentuknya mereka adalah sebagai grup musik, keberadaan Pure Saturday tak pernah berjarak dan selalu bersinggungan dengan buku. Banyak karya-karya mereka yang sejak lama didengar oleh khalayak luas di Indonesia terinspirasi dari buku-buku yang telah mereka baca. 

“Buat saya pribadi musik dan literasi adalah sesuatu yang sangat kuat dan besar. Saya sendiri kalau bikin lirik lagu banyak referensinya diambil dari buku. Kita yang berkecimpung di dunia musik indie, buku sudah menjadi satu ikatan dan keharusan. Semakin banyak membaca, semakin banyak diksi yang bisa kita gunakan dalam lirik lagu,” papar Ade.

Tambah Arif, melalui Bank BRI Mocosik Festival 2018 dan tahun-tahun selanjutnya, ia berharap acara tersebut dapat menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang selalu haus untuk terus menambah pengetahuan mereka lewat membaca. “Saya pikir kita harus membudayakan kutu buku buka kutu gadget,” serunya.

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Rio Febrian Berharap Mocosik Festival Bisa Menjadi Pionir Bagi Kota Lain

Yogyakarta – Rio Febrian, penyanyi yang telah memulai karir bermusiknya sejak usia remaja itu masih tetap menjaga konsistensinya dalam bermusik. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya panggung musik yang melibatkan dirinya. Salah satunya adalah ketika ia terlibat secara langsung dalam acara Bank BRI Mocosik 2018, Jumat (20/4) di Jogja Expo Center (JEC). Mocosik Festival sendiri merupakan festival tahunan yang berkhidmad untuk mengolaborasikan dua tema besar dalam sebuah wadah acara yang komunikatif dan lebih segar--tema 'buku' sebagai upaya untuk merangsang generasi muda untuk terus mencintai dunia literasi dan kegiatan membaca, juga tema 'musik' sebagai budaya populer yang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. 

Pada tahun ini, Rajawali Indonesia Communication sebagai promotor acara tersebut menggelarnya selama tiga hari, yaitu pada 20, 21 dan 22 April 2018 dengan menyuguhkan berbagai sajian menarik yang terkemas dalam bazar buku, pameran arsip, konser musik dan talkshow yang menampilkan banyak nama di dunia literasi. 

Rio menuturkan, bisa terlibat dalam Bank BRI Mocosik 2018 adalah sesuatu yang mendapatkan ruang khusus pada dirinya. Usai penampilannya menghibur ribuan pengunjung Bank BRI Mocosik 2018 di hari pertama, acara serupa belum pernah ia temukan selama dirinya berkarir di dunia musik. Hal ini Rio katakan bisa menjadi sebuah angin segar di kala maraknya kabar bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih terbilang kurang.

“Buku sendiri adalah sebuah bentuk fisik yang menurut gue sampai sekarang masih sangat dasyat. Untuk gue sebagai musisi mendapatkan banyak sekali referensi dari buku. Menurut gue dengan adanya dua kultur yang digabungkan dalam satu acara, antara buku dan musik adalah sesuatu yang sangat positif,” papar Rio.

Lanjut Rio, ia berharap Mocosik Festival bisa secara konsisten hadir di tengah masyarakat Indonesia. “Semoga acara ini (Mocosik Festival) bisa ditiru oleh kota lainnya, sehingga dengan begitu Indonesia bisa jadi lebih berwarna. Gue berharap bisa kebawa ke dunia internasional. Karena kadang-kadang dari luar Indonesia pun banyak juga mencontoh kita,” tambahnya.

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Bank BRI Mocosik Festival 2018, Festival Yang Sangat Jenius

Yogyakarta – Neonomora, solois yang juga seorang penulis lagu menjadi penampil pembuka di Bank BRI Mocosik Festival 2018 di hari kedua, Sabtu (21/4) di Jogja Expo Center (JEC). Mocosik Festival sendiri merupakan festival tahunan yang dirancang untuk mempertemukan dua kultur yang berbeda, yaitu buku dan musik dalam satu panggung. Penyanyi pemilik nama lahir Ratih Suryahutamy tersebut berhasil membawakan beberapa judul karya terbaiknya di hadapan ratusan pengunjung yang hadir dalam acara yang disponsori oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Di antaranya seperti Sapphire, Waver, Seeds dan lainnya.

Usai menampilkan pertunjukannya yang sangat memukau, wanita yang akrab disapa Ra itu menuturkan bahwa pada awalnya ketika mendengar kata Mocosik ia menyangka bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Rusia. Setelah mengetahui lebih banyak informasi tentang Mocosik, ia baru paham bahwa kata itu merupakan sebutan untuk sebuah festival yang mempersatukan para pembaca dan pendengar musik untuk sama-sama merayakan buku dan musik.

“Keren sih dan selama ini aku belum pernah mendengar acara seperti ini, di mana musik dan buku disatukan dalam satu panggung,” ujar Ra.

Selain itu, Ra membagikan kisahnya di masa lalu, yang mana wanita kelahiran 16 Mei 1988 silam tersebut sempat memiliki mimpi untuk membaca buku sambil ditemani live performance musik. Dan mimpinya tersebut dapat terwujud yang juga dirasakan oleh masyarakat tanah air dengan hadirnya Mocosik Festival di tengah-tengah mereka.

“Dulu aku kayak punya mimpi di mana ketika sedang membaca buku ditemani dengan live performance, dan itu kalau memang terjadi bakal keren banget. Dan pas ngedengar ada Mocosik Festival, Waw! Ini seperti hanya satu dari jutaan festival yang nggak akan ada lagi di tempat lain. Dan ini adalah festival yang sangat jenius,” jelas Ra lagi.

Paparnya lagi, untuk tahun-tahun selanjutnya ia berharap Mocosik Festival akan menjadi ruang yang bisa dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia, juga saat di mana buku dilestarikan untuk menjadi sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan. “Buku itu lebih nyata. Aku suka baca buku, nyium baunya dan banyak lagi. Ini festival yang harus disejarahkan. Banyak penulis hebat di Indonesia. Dan dengan adanya festival seperti ini mereka akan sangat terbantu,” tutupnya.

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Bank BRI Mocosik Festival 2018 Menjadi Panggung Terakhir Frau Sebelum Tuntaskan Studi

Yogyakarta – Mocosik Festival menjadi sebuah ruang pertemuan antara pembaca buku dan pendengar musik untuk sama-sama merayakan buku dan musik dalam satu pesta. Sejak pertama kalinya diperkenalkan kepada masyarakat tanah air pada tahun 2017 lalu, festival ini mampu menyedot animo yang sangat besar sehingga acara ini tak pernah sepi dari perbincangan dari mulut ke mulut maupun di dunia maya.

Dengan keterlibatan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk sebagai sponsor utama dalam Mocosik Festival di tahun keduanya, di 2018 festival ini memiliki nama Bank BRI Mocosik Festival 2018 yang diselenggarakan pada 20, 21 dan 22 April 2018 di Jogja Expo Center (JEC). Ada banyak sekali sajian yang coba disuguhkan dalam acara ini, mulai dari bazar buku, konser musik, pameran arsip dan juga talkshop dari beberapa penggiat literasi.

Di hari kedua penyelenggaraan Bank BRI Mocosik Festival 2018, Sabtu (21/4), di panggung talkshow dan panggung konser menampilkan nama-nama besar yang bersinggungan langsung bersama pengunjung yang hadir. Seperti Yovie Widianto, Garin Nugroho, Neonomora, Frau, Ten 2 Five, Tompi dan juga Tulus yang akan menutup acara ini di hari kedua.

Leilani Hermiasih, vokalis yang juga pianis dari Frau menuturkan bahwa dalam benaknya ia belum pernah berpikir akan ada sebuah ruang yang mengakomodir antara buku dan musik dalam satu panggung. Dan hal itu baru ia temukan ketika terlibat secara langsung menjadi salah satu pengisi dalam festival yang digelar oleh Rajawali Indonesia Communication.

“Dengan menggabungkan kedua hal itu, antara buku dan musik adalah sesuatu yang sangat berbeda kalau menurutku. Dan ini sangat positif,” ujar wanita yang akrab disapa Lani.

Lani mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam panggung konser di Bank BRI Mocosik Festival 2018 adalah terakhir kali baginya sebelum berangkat kembali ke Jerman untuk menyelesaikan studi S3nya. “Dalam waktu dekat aku bakal berangkat untuk menyelesaikan studiku. Mungkin beberapa bulan ke depan akan ada di sana untuk menyelesaikan hasil penelitian yang udah aku lakuin satu tahun kemarin. Mungkin nggak main musik dulu,” jelasnya lagi.

 

 

VOLCANO ROCK FESTIVAL

Std. Pandanarang, Boyolali – Sabtu, 12 Mei 2018

VOLCANO ROCK FEST merupakan mimpi luhur ajang pagelaran Musik Rock berkelas Internasional yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2018, bertempat di stadion Pandanarang, kota Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia. Konser musik rock berkelas Internasional ini akan menampilkan line up utama grup musik hard rock legendaris asal Swedia, EUROPEdan akan dibuka dengan penampilan band legendaris tanah air, yaitu Godbless.

Kota Boyolali sebagai tempat diselenggarakannya konser ini merupakan kota yang terkenal dengan masyarakatnya yang ramah, kondisi alamnya yang sejuk dan pesona wisatanya yang indah layaknya Mutiara yang terpendam bagi masyarakat awam yang belum mengetahuinya. Dengan kondisi masayarakat dan alam seperti itu, VOLCANO ROCK FEST diharapkan tidak hanya sekadar menyuguhkan konser musik semata, tetapi juga tercatat dalam sejarah musik nasional sebagai konser musik rock yang yang dapat dinikmati dengan rasa nyaman untuk semua kalangan yang akan hadir, penikmat musik dan para musisi itu sendiri.

VOLCANO ROCK FEST merupakan konser musik berkelas internasional yang digagas oleh Bapak Drs. H. Seno Samodro yang juga menjabat sebagai Bupati Kab. Boyolali. Sebagai penggagas acara konser ini, Bapak Drs. H. Seno Samodro sangat berharap VOLCANO ROCK FEST tidak melupakan dan tidak meninggalkan esensi Boyolali sebagai kota dengan masyoritas masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat serta seni budaya Jawa yang adiluhung.  Untuk memperkuat aura acara ini, penyelenggara mengusung tagline “Gemah Ripah Rock Jinawi.”

Konser yang dipromotori oleh Team Boyolali Satu dan menggandeng Jogjarockarta Festival sebagai event consultant yang sukses mendatangkan Dream Theater di Jogjakarta tahun lalu ini diharapkan dapat sukses membranding Kota Boyolali sebagai Kota Event berkelas Internasional. Konser musik rock terbesar di Jawa Tengah ini juga sekaligus sebagai ajang menyambut hari jadi Kota Boyolali yang akan jatuh pada bulan Juni nanti.

Dalam pra-konser VOLCANO ROCK FEST selain Vulcano Stage sebagai panggung utama, penyelanggara juga akan memperkenalkan sebagian icon / destinasi wisata yang ada di kota Boyolali kepada para pengunjung dengan menyuguhkan dua panggung yang berbeda tempat, yaitu Merapi Stage dan Merbabu Stage yang berlokasi di Kompleks Perkantoran  Kabupaten Boyolali. Akan dimulai pada pukul 11.00 sd 16.00 WIB. Melibatkan banyak musisi Band Rock Lokal dan Finalis Boyolali Rock FestivalDi panggung Merbabu akan ada penampilan dari band-band antara lain; Vioreta, BAM Rock, Emeralium, Jambu Aer, Spider – G, UnderCow, Reload, Victoria, The Flash, Feel Good dan di panggung Merapi akan ada penampilan dari band-band antara lain; Step Down, G-Squad, Ultimate, SexSickSix, Deminish Perception, Paranoid Despire, Patriot, Lotus, Sinthink, The Fast dan D’ Diamondz. Pra konser di dua panggung ini bisa disaksikan secara GRATIS.

Untuk panggung utama, Volcano Rock Fest menyediakan tiket yang dapat dibeli penonton secara online di www.tiketapasaja.com. Dan juga penjualan tiket offline yang beralamat di Kantor Panitia jl. Nanas. No. 13. Driyan, Siswodipuran Boyolali. Tiket tersebut terbagi menjadi dua  kategori kelas, yaitu kelas Festival A seharga 150K dan kelas VIP seharga 250K. Untuk memfasilitasi pembeli tiket di luar Boyolali panitia menyediakan Penjualan Ticket Box di beberapa kota di Pulau Jawa antara lain Solo, Surabaya, Malang, Salatiga, Yogyakarta, Semarang, Temanggung, dsb.    

Untuk informasi lebih lanjut terkait konser dan pembelian tiket dapat diikuti melalui akun official Volcano Rock Festival di media social Twitter @volcanorockfest, Instagram @volcanorockfestival, facebook @volcanorockfest atau bisa terhubung ke hotline 085328702993.

 

Event Consultant :

JOGJAROCKARTA

Makassar – Surabaya – Bandung

To get closer to the customers and the public in general, Telkom Indonesia through IndiHome will hold the IndiHome Run, a fun run event. The fun run is intended as a part of a healthy lifestyle campaign which can be reached by anyone as well as IndiHome products. IndiHome Run is divided into three categories of races: 10K, 5K and 3K Family. This activity can be followed by professional runners, beginners, and public in general.

IndiHome Run registration can be done by online via www.indihome.co.id, at Plasa Telkom offices in each city, and assigned media partners. The registration fee for the 10K category is Rp 50,000 per person, 5K Rp 50,000 and 3K Familia Rp 35,000. The ticket price includes race-pack consist of jersey and chest number.

Telkom has also set up prizes with a total of tens millions rupiah that can be contested by the runners. For Category 10K, the champion will receive a cash prize of Rp 5,000,000, Rp 4,000,000 for second place and Rp 3,000,000 for third place. As for 5K, the first place will receive Rp 3,000,000, Rp 2,000,000 for second place and Rp 1,000,000 for third place for each category of male and female.

Besides, IndiHome Run will also bring the singer Rio Febrian as the Telkom Brand Ambassador for IndiHome to race together with the participants in all cities. The runners of IndiHome Run Makassar will be released by the Minister of Village, Development of Disadvantaged Regions and Transmigration of the Republic of Indonesia, Mr. Marwan Jafar.